Tampilkan postingan dengan label Skill Upgrade. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Skill Upgrade. Tampilkan semua postingan

Penemuan Kembali (Passion yang Hilang)!

/ 4 Juli 2013 /
Good morning, met pagee!
Pagi ini dengan kepala berdenyut kencang dan dua kelopak mata berdekapan erat enggan dilepas, saya memaksa diri untuk mulai menulis. Agar tak hilang kesempatan, pikir saya.

Soalnya saya sedang berada di atas bus pariwisata, dan kategori transportasi ini tak ada hubungannya dengan alasan perjalanan. Bukannya pariwisata (meski jadi salah satu agenda), saya dan rekan-rekan safar ke Tanjung Lesung justru untuk untuk evaluasi kinerja semester pertama. Hehe..

Mungkin agar tamparan ga dirasa terlalu keras, disediakan dulu tempat jatuh yang nyaman. :-D

Saya sih senang, karena selain saya kepingin show-off ke rekan-rekan lain bahwa tim kami sudah menerapkan KPI (meski itu versi beta), saya juga jadi  berkesempatan untuk melakukan sesuatu yang ternyata sangat saya sukai, a.k.a MENEMUKAN PASSION LAIN! Woooo! How cool is thaat??

Nah nah, jadi ceritanya kita diwajibkan untuk membuat presentasi. Setiap departemen. Saya sudah bikin presentasi standar profesional lah, yang cheerful, icon-icon bisnis, standar microsoft powerpoint dah. Precise to the point, clean cut.

Begitu menerima rundown acara, rupanya saya ditempatkan jadi presenter penutup di hari kedua, yang acaranya dimulai pukul 21.00, sedangkan presentasi paling awal sudah dimulai sejak pukul 8.00. Berturut-turut. Kepala saya langsung sakit.

OMG!
I need to gather everyone's attention!
Gimana caranya biar mereka ngga ngantuk liat presentasi gue??!

Lalu saya merenung di depan komputer cukup lama sebelum memutuskan untuk mengubah keseluruhan desain. I decide that I will give a laid back contemporary presentation. Wha? Yup, you heard that right. A Laid-back, Contemporary presentation design.

Total make-over ini menghasilkan presentasi yang whimsical, and I Loove It! Nih saya kasih bocorannya. Ngga keren-keren amat, tapi BEDA (setidaknya diantara presentasi Head departemen non-creative lainnya, hehe)
front page
Front Page Presentasi Evaluasi kite, Penemuan Kembali!

Section 1 subtitle
Section 1 Subtitel, Penemuan Kembali Passion yang Hilang!

Section 2 subtitle
Section 2 Subtitle, Penemuan Kembali Passion yang Hilang!

Isi Section 3 (sample)
Isi Section 3 (sample), Penemuan Kembali Passion yang Hilang!

Isi Section 3 (sample)
Isi Section 3 (sample), Penemuan Kembali Passion yang Hilang

Isi Section 3, kesimpulan
Isi Section 3, kesimpulan

End Page, Thanks statement <3
End Page, Thanks statement <3


Dibutuhkan waktu 3 hari untuk bikin presentasi ini dan ga sedikit usaha bikin grafis yang akhirnya gagal (total 26 cute slides). Phew... Tapi saya menikmati setiap detiknya. Sangat menikmati... (Kalau ada yang kepingin tau font apa yang saya pake, atau soal detail grafisnya, email aja ya, nanti saya kasih link-nya)

Lalu saya jadi ingat yang dulu-dulu. Sebenernya sejak dulu saya suka menggambar, menciptakan chaos di rumah dengan menata sendiri ruangan saya dan ruang apapun yang mungkin. Saya juga suka membuat komik manual dan digital, saya suka bikin grafis di photoshop, dan semasa kuliah saya pernah bikin presentasi out of the box dimana saya bikin sendiri grafisnya pake komik manual yang di scan. Semua hal itu saya lakukan dengan gembira, seperti tidak kenal cape dan waktu.

Tapi ko saya ga pernah mempertimbangkan desain sebagai passion sebelumnya yah?
Hmm...

Whateverlah, from this day onward, Desain, mari kita bersenang-senang! Woohoo!

@dinarkarani


Update: Sekarang saya ada di Bloglovin', follow yaa..

Latihan Menulis dengan Metode "Tulis Apa Saja, Saat Kepingin"

/ 28 Juni 2013 /
Hai hai hai haii!
Sudah lama banget skip nulis di blog ini. Gagal deh rencana saya untuk post setiap hari. Ternyata saya ngga punya keberanian sebesar itu (atau lebih tepatnya belum punya) untuk memposting apapun yang ada di kepala tanpa tedeng aling-aling...

Berdasarkan evaluasi terhadap tulisan-tulisan maksa yang saya buat tiga hari berturut-turut, serta masukan dari buku tulisan Om Hernowo selama saya bertapa dari dunia blog, saya jadi paham bahwa rupa-rupanya saya masih belum mampu menulis dengan mengalir, dan masih kebingungan dengan gaya penulisan saya ini.

Naah.. untuk itu, saya membuat proyek untuk diri saya sendiri, dimulai dua minggu yang lalu: Menulis Apa Saja, Saat Saya Menginginkannya. Tidak ada embel-embel 'Setiap Hari', karena ternyata itu yang membuat saya malah jera menulis. Saya biarkan saja kata-kata itu muncul dengan keinginannya sendiri, tanpa harus saya paksa-paksa. Seperti telur barangkali, kalau saya paksa keluar malah jadi telor ceplok dan bukannya anak ayam.

Setelah beberapa waktu, rasanya saya tahu karakter penulisan saya seperti apa. Silahkan teman-teman baca dan kritisi tulisan dibawah ini:

Note: Tulisan ini dilahirkan begitu saja. Hanya butuh 15 menit untuk menuliskannya, sesuai proyek saya diatas. Jadi, maafkan kementahannya, I hope you can give me feedback. :)





Untuk Musuh Terkasih,


 
Oke, jadi saya ngga suka sama kamu. Kamu juga ga suka sama saya. Fine, the feeling are mutual. Kita ga perlu saling sapa, dan memang ga perlu menjadi karib untuk bisa mengerjakan proyek bareng-bareng. Kita saling memahami saja, bahwa kita itu utara dan selatan, malam dan siang, hitam dan putih.
Dari sekian banyak hal di dunia ini, kita akui saja, batas-batas kesamaan kita itu tipis. Setipis jarum kompas, setipis subuh, setipis abu.

Kita tahu kita berbeda. Kita paham kita tak saling sepakat. Kita sepakat kita tak pernah bisa akur. Dan itu cukup. Cukup bagi kita bahwa kita terdampar di kapal yang sama, dengan tujuan yang sama, dan waktu jumpa yang lebih lama daripada waktu kita bercengkrama dengan keluarga.
Tapi entah kenapa, dengan segala keriuhan cekcok kita, dengan segala keengganan, segala kekesalan, segala kebencian (Jika saya boleh menyebutnya begitu), saya dan kamu, kita sama-sama tahu bahwa kita sama-sama tak terganti. Setidaknya itu menurut saya. (Kamu pun boleh tidak setuju)

Saya kira begitu. Segala jenis kerumitan hubungan transaksional yang kita anggap sebagai profesional,  rupa-rupanya malah berhasil membuat saya berkaca jauh ke dalam diri saya sendiri. Justru lebih berhasil ketimbang hubungan saya dengan orang yang saya kasihi. 

Hubungan kita yang jauh dari kata hangat itu justru berhasil membuat saya lebih memahami diri saya sendiri, dan apa posisi saya di dunia ini. Lewat kemarahan saya kepadamu, justru saya merenungi bagian diri yang mungkin akan berbuat sesuatu yang sama denganmu. Dengan segala ketidaksetujuan saya terhadap tingkah-lakumu, justru saya paham langkah apa yang harus saya perbaiki untuk diri sendiri.  Kamu, dengan caramu sendiri, telah membuat saya lebih dewasa.

Jadi diatas segala kebencian saya padamu, saya justru harus berterima-kasih. Terima kasih karena kamu telah membuka mata saya pada cermin buram itu. Membuat saya menyadari siapa bayangan yang tersenyum dibalik itu, siapa gajah yang bersembunyi di kelopak mata ini. Terima kasih karena telah membuat saya memahami bahwa kebencian saya padamu sesungguhnya muncul dari kelemahan diri ini.

Saya menyadarinya. Dan saya harap, kamu pun begitu. 

Mari kita sama-sama saling tidak menyukai, tapi juga saling mensyukuri.



How? Sudah cukup mengalir ga? 
Untuk yang kenal saya secara langsung, pasti tahu tulisan ini non-fiksi. Hehehe... Tapi memang begitu kan, dalam beberapa segi kehidupan, Musuh adalah teman yang terbaik.

See you when I see you!

@dinarkarani

How To Cope With A Writer's Block

/ 14 Mei 2013 /
Psst!
Can you tell?

Yup, I miss two days of writing. How sad.. 

You can yell to my face. That's my declared promise.

Well,
I already prepare my self to write twice longer from my usual post, as the penalty of my 'undisciplined act'. But here I am, been 45 minutes facing the white screen, and still don’t have any idea of what to write. For a moment there, all I did was type, and then erase, type, and erase, so I always ended up with a black screen. I can't seem to find a good theme to write about...

Hey, I'm having a Writer's Block! Hurrah! 
Now I have something to talk about!




How To Cope With a Writer's Block.

This is not entirely my idea, because I read so much books and online articles, and some of it was about writing. So if you find this tips enjoyable and functional, I want you to thank all the writers in the world for sharing their tips that I can use.

Writer's Block is not a new thing for me. It came to me, like, 3-4 times in a month. Sometimes it last only for a moment, but mostly it reduced my creativity to zero and I didn't write for months. That's why I skipped writing some other days (or months), because Writer's Block made me afraid to face the black screen. Maybe it happens to you too?

So what is a Writer's Block?

A very easy description of Writer's Block is this: You get stuck and unable to think of something good to write. Every writer must have feel this way sometimes. So it's very common. (I wonder if there is a support group for writers?)


By experience, I can share simple steps to dispel this issue :

1. Write anything that comes to mind.

I bet you know that our minds is radial. It tends to circle one idea with any other ideas connected to it. So don't waste your time in type-and-erase mode, just write everything down. This step alone will ignite your creativity.

The key is to postpone judgment, and just play along wherever your mind wander, and write it down. If you have a piece of paper or a mind-map software, you might want to draw rather than just write,it will boost your mind in a blink.

2. Pause. 


At some point, you will notice that your mind is actually pointing to something 'significant'. Or if you mind-map, you can clearly see the idea that have most connections. Your Main Idea. It is actually the thing that your mind interested with, so entertain your self by considering it more seriously. Evaluate its connections, and you'll find a story to tell.

3. Write The Main Idea

Once you had the central idea, go and write about it. It must be simpler now because you already have the material ready to use. Every words has presented itself, every idea is there, you just have to arrange it to a readable structure.

Once you write, there's none stopping you.


"But what if the Writer's Block still there when I already did all three?"
 Well, in that case, you just need to

4. Rest your Mind.

Seldom, Writer's Block is the son of a busy mind. When you have too many thing to think about, you could never find the right thing or momentum to write. So, just pause, and breath slowly, let your mind at ease. Perhaps you want to try a little meditation? Just do it.

Remember, writing is liberating, you don't have to stress over it.
When you feel better, go back to the draft, and enjoy creating.




I tried the tips for this post, and It worked. What about you? Does it work? If you have any other idea about how to cope with a write's block, please share on the comments below.


@dinarkarani

Stir Fry: a Beginner's Note

/ 10 Mei 2013 /

I am not good in cooking.
Not because I don't like to cook, but because of my taste bud.

I can't tell whether a dish is extraordinary, good, or plain. For me, every dish is cool. Well, perhaps they have a different and sometimes exotic taste, but I always find the goodness in every dish.

I can eat anything without complain. (I wish I have the same approach to life. lol)

But!
I want to change. I have to. I don't have a choice.

You see, my son Arik, he's only 5 months old, and I already recognize that he has a strong sense of taste. He droll so much everytime he see people eat, and cry heartily over a food that he shouldn't eat on his age.

His curiosity over food is amazing. And he can recognize the smell of hot noodle from 3 meters away and fussing about it.

And he just loooove to eat. He eats solids now, and I always have a hard time during meal time, because he never wants to stop! I need to feed him non stop without pausing, or he'll start to cry. And he demand his own spoon -just in case.

What would his culinary future be if his mom couldn't tell the difference between ginger and galangal!... Pathetic...

Anyhow, nowaday I embrace my fear and learn to cook something other than scrambled eggs. And my personal project is to master the easiest cooking method in the world: Stir fry!

Stir fry is awesome, I don't know who invented it, but I thank the Chinese for popularizing it in Indonesia. With stir fry, you can never go wrong. Even for someone like me!

The secret is to master the rule: 5:4:2

5 garlic, minced.
4 red union, chopped.
2 red chilli, take out most of the seeds, and sliced.

Those are the basic ingredients. The foundation of the dish.

So I think I want to share about my venture with stir fry this morning. I want to make something quick and easy, and I only have beef sausages on my fridge. Well thats easy!

The preparation and process will be 20 to 30 minutes in total. It depends on how skillful you are in the kitchen. It took me 30 minutes or so (perhaps longer, hehe).

Number one rule: Always heat up the skillet before you pour oil.

Rule number two: Always heat up the oil before you put anything in it. But don't overheat, or you'll end up with fried basic ingredients.

Rule number three: Stir garlic first, then
red onions, then chilli. Stir till you can smell the nice stomach-growler aroma...

Whats fun about stir fry is aside of the basic ingredients, we can cook literally anything we want. As long as its edible. For my case, 4 sliced frankfuter sausages.

I just pour the sausages into the wook, and quickly stir it and tumble it over and over again, to evenly heat the sausages and to let the ingredients sip into them.

And when the sausage is half cooked, put some water into the skillet, and let it cook again for a while. Half a minute is good.
 
Then, pour some mushroom sauce, add a little bit of salt, and stir it untill it close to boiling.

Sweeten things up with some caramelized soy sauce, stir it, and let it soak a little bit more.

To finish, give the dish a dash of greens with chopped leeks. And voila! We have a sausage stir fry for luch!

Easy. Quick. Yummy

@dinarkarani

Declaration of A Good Habbit!

/ 7 Mei 2013 /

Haiya there!

I've postponed this declaration for soo many years now since I first follow zenhabbits of Master Leo Babauta. I need to have a writing habbit. And I know that I need it. It's just that I don't have much inner strength to keep on going.

And today while I was pondering about the thing that I want to share with my team, there's the door, opening up to me. I can no longer delay this declaration!

So here it is, the declaration of NEW HABBIT!

Everyday, I will post here the story about how I manage my team, about the improvement projects, perhaps a little mischief going on in my funny team, about life as a mum, my son development, anything!

Please read this blog daily, and yell to my face if I miss the routine!

@dinarkarani

Ps. Thank you Master Leo

Criticism: Why we avoid this great tool anyway?

/ 10 Oktober 2012 /
Criticism from one person is a jewel to another!
Criticism. Once hailed as the best practice for Continues Improvement, later deemed as a threat to personal relationship. Yes, we all read Dale Carnegie's, and yes we all aware of the rise of 'People-Centered Leadership' in the dawn of this century, whose one of the teaching is to avoid criticism as hard as a person could manage. But is it really that bad?



I think a good amount of criticism is great for one's soul. And I think most people who avoid criticism or bluntly say 'NO' to one, are usually those who need self-defense strategy to feel good about themselves (ouch?).

Why say no to criticism when you know that it will actually helps you to propel your performances? Why say no to criticism when you know that you don't know all aspects about your self (blind spots, hello??)

Criticism is good. Criticism is the actual act of care, I daresay. Only those who care enough who'd want to give their saying about something, right? Those who don't care, would just see you making mistakes and laughed at it and that's that. I never heard any great athlete achieved her peak performances without a stern coach by her side. Never. And I daresay, it won't happen in the near future.

So, again, we need criticism to evaluate our selves. To measure how well we do what we do according to people who care enough about it. Criticism is like a piece of jewel in a rock. You may find it displeasing at first, but if you scrub it to find the what lies inside, you'll get the precious gifts. The gift of awareness.

Be brave. Be open to criticism, or seek one, then think about that over and over again. Once you found your blind spot, start to fill in the gaps. It's good for your soul. Trust me, I know.

@dinarkarani

Cara Tetap Waras di Tempat Kerja

/ 13 Oktober 2011 /
Whatssuup! It's been a long while, eh?
I've been busy with my job, and some other things that requires my attention, so it's hard to put my thought on this blog. But here I am now, and I'm so ever thankful for my reses, because it left me with this great idea of how to Keep Sane In Your Workplace. Hehe, read on...



Cara Tetap Waras di Tempat Kerja

Oke, kecuali kita seorang pengangguran kaya raya, kita pasti pernah merasa overwhelmed dengan pekerjaan yang datang berduyun-duyun dari seantero mata angin. Kalau Anda karyawan seperti saya, skema penumpukan (hehe) berlangsung sebagai berikut: Ketika proyek A belum selesai, muncul proyek B. Ketika proyek A hampir selesai, dan proyek B dipersiapkan, diundanglah meeting untuk proyek C, daaan seterusnya.

Meskipun kita mungkin tidak mau mengakui bahwa hal itu adalah tekanan, (“tak ada tekanan, yang ada tantangan!” katanya) kita harus menyadari bahwa otak dan fisik kita dituntut untuk bekerja secara maksimal dan konstan. Hati-hati, karena itu bisa berbalik buruk untuk kita. Salah-salah, bukannya sukses memberi hasil, kita malah sukses masuk rumah sakit karena tipus atau frustasi.

Sebetulnya hanya ada 2 tips pamungkas untuk Tetap Waras Di Tempat Kerja, yaitu:1) Miliki treshold terhadap stress yang sangat tinggi, dan 2) Mengelola pekerjaan agar tidak menumpuk. Tips kedua inilah yang akan saya bahas hari ini.
Prioritas

Iya sih, tampaknya memang klise. Tapi percayalah, 'membuat prioritas' itu lebih mudah diucapkan 1000 kali ketimbang dilakukan secara menyeluruh dan konsisten. Banyak dari kita – termasuk saya dulu, dulu yah – yang menetapkan prioritas di awal hari, lalu kesulitan memelihara prioritas itu di siang hari, dan gagal menyelesaikan prioritas di sore hari. Hal ini tidak hanya meninggalkan rasa pahit di lidah (karena kena cipratan ludah si bos), tapi juga rasa tidak puas sebagai pribadi.

Sudah terlalu banyak korban dari kejahatan kerah putih seperti ini. Terlalu banyak...

Maka, mari kita sama-sama saling meningatkan bagaimana cara untuk menepati prioritas kita. Ingat, prioritas itu janji pada diri sendiri, dan janji harus ditepati. Kalau gagal, harusnya kita puasa kifayat 3 hari berturut-turut, hehe~

Picture
www.rainmakerlawyer.com

Kuadran Prioritas adalah konsep yang sangat brilian, tapi biasanya orang bingung gimana harus memilah-milih pekerjaannya antara penting-genting dan tidak penting – tidak genting, or somewhere in between. Mengkotak-kotakan pekerjaan seperti ini pasti membingungkan, setidaknya untuk saya. Bagaimana saya tahu itu kuadran 1 dan bukan 2? Sepertinya mirip-mirip, hehe..

Jadi apa yang saya lakukan? Saya membuat list pekerjaan yang harus dilakukan pada hari itu, dan kemudian melingkari pekerjaan yang:


1. Berdampak pada departemen lain/pekerjaan orang lain;
2. Deadline-nya dekat; dan
3. Tidak ada ruang untuk negosiasi deadline.

Ingat, itu 'DAN' yah, bukan 'ATAU'. Saya tentukan prioritasnya berdasarkan 3 hal tersebut.

Oke, sekarang, kita sudah punya prioritas. Lalu?


Fokus adalah langkah selanjutnya. Fokuslah hanya pada TIGA (3) pekerjaan yang paling tinggi. Dan kerjakan TIGA perkerjaan itu, berturut-turut. Tentu dengan istirahat sejenak diantaranya. Jika Anda mendapatkan tugas baru saat sedang mengerjakan pekerjaan itu, tulis saja di kertas atau “post-it”, dan tempelkan di dahi, lalu kembali kerjakan tiga hal yang tadi.

Hehe, dahi hanya perumpamaan, artinya langsung lupakan.

Bagaimana jika ada meeting dadakan? Tanyakan dulu apakah kehadiran Anda tidak bisa digantikan dalam meeting tersebut? Jika jawabannya ya, ya mau gimana lagi.. hehe... Tapiii.. setelah kembali dari meeting, mau tidak mau, SELESAIKAN TIGA PRIORITAS itu!

Intinya, objective Anda di hari itu adalah mengerjakan Tiga Prioritas. Saat Anda berhasil menyelesaikannya, Anda baru boleh naik level.

Nah, seumpamanya Anda sudah selesai mengerjakan prioritas itu dan selesai di sore hari, apa yang mesti Anda lakukan? Well, rayakan sejenak dengan beristirahat dan minum kopi, mungkin chatting bentar ma temen, lalu kerjakan prioritas selanjutnya. Itu bonus level, namanya. Hehehe...

Apakah cukup sampai disitu? Tentu tidak.

Berani Berkata Tidak adalah faktor penentu keberhasilan usaha Anda seharian. Bayangkan jika Anda terus-terusan menempel “post-it” di dahi Anda... Tidak hanya pandangan Anda akan teralihkan (hehe), tapi secara psikologis Anda jadi lebih tertekan karena memikirkan pekerjaan selanjutnya.

Jurus pamungkas untuk mengelola pekerjaan adalah dengan Berani Berkata Tidak. Mungkin tidak blak-blakan, “Ga mayuu!” seperti anak Te-Ka. Akan tetapi Berkata Tidak 'ala Kerah Putih. Hehe, seperti apakah?


Picture
Andaikan Anda sedang asik mengerjakan pekerjaan A. Lalu bos Anda muncul di hadapan Anda, lalu bilang, “Cuy, saya butuh analisa pasar dari tahun 2008, spek-nya bla bla bla...”

Daripada keblinger mikir caranya, tanyakan dulu “Kapan deadline-nya, Bos?”

Kalau si Bos bilang, “Sore ini ya.”. Anda jangan keburu asma. Tapi katakan, “Saya sedang mengerjakan pekerjaan A, B, dan C. Apa bisa analisanya saya kerjakan besok pagi? Atau apakah pekerjaan B dan C bisa saya alihkan besok?” Lalu berikan penjelasan singkat untuk tiap pekerjaan. (Ingat, penjelasan loh, bukan keluhan.)

Well, karena bos adalah orang yang memberi pekerjaan pada Anda, sudah jadi kewajiban moralnya untuk membantu Anda untuk bisa menyelesaikan pekerjaan. Jadi, most likely dia bakal memberikan keringanan atau keputusan menggeser prioritas.

Tapi, jika Anda cukup sial untuk mendapatkan bos tipe Y, maka Anda yang harus mengambil keputusan bagi diri Anda sendiri, dan siap menanggung konsekuensinya. Hanya, siapkan saja alasan yang masuk akal untuk orang-orang terkait. Hehe...



Oke deh, sekian saja. Semoga bermanfaat! :D


(untuk penjelasan lebih baik soal Kuadran Prioritas, lihat disini. Untuk penjelasan yang lebih sempurna soal Fokus, lihat disini.)

Why Do You Love Me?

/ /
Seorang teman bertanya, apa maksud dari pertanyaan “Kenapa sih kamu suka aku?” yang dilontarkan pacar/teman dekat?


Situasi seperti ini pasti pernah dialami oleh setiap orang, perempuan maupun laki-laki. Meski, secara gender, biasanya perempuan yang dikaitkan dengan pertanyaan tersebut, yang membuat pacarnya kelimpungan karena tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan. (pengalaman pribadi, hehe)

Nah, untuk menjelaskan maksud dari pertanyaan tersebut, mari kita intip dulu sedikit ilmu komunikasi.

Dalam dunia komunikasi, dikenal dua aspek pesan yaitu content dan context. Content, atau Isi, adalah bahasa pesan tersebut, dalam hal ini adalah pertanyaan “Kenapa sih kamu suka aku?”. Kalau kita mengacu pada aspek Isi, pertanyaan ini benar-benar bertanya alasan rasa suka, dan jawaban yang benar -setelah berpikir lama- adalah dengan mendeskripsikan alasan kenapa kamu mau berhubungan dengan dia, “Ya karena kamu baik,” “karena kamu cantik”, “karena kamu pintar.

Tapi hampir bisa dipastikan feedback berikutnya adalah, “karena itu doang?” dan kamu pun makin bingung...
Kenapa jawaban itu tidak memuaskan? karena memang bukan itu tujuan pertanyaannya.

Dalam setiap pesan, terkandung juga makna kontekstual (context), dalam hal ini adalah Hubungan. Jika kita cermat mengamati situasi yang muncul sebelum pertanyaan itu (berdua, habis nonton bioskop), serta bagaimana bahasa tubuh yang bertanya (manyun manja sambil menyeruput coklat panas), kita jadi tahu, bahwa yang dimaksud dari pertanyaan “Kenapa sih kamu suka aku?” tidak lain dan tidak bukan adalah:

Katakan dong bahwa kamu suka aku..”
:D


Selamat berkomunikasi!

Follow Me

blogger widget

Temanku

Popular Posts

Blog Hits

 
Copyright © 2010 Dinar Karani, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger