Tampilkan postingan dengan label Review Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review Buku. Tampilkan semua postingan

The Casual Vacancy

/ 20 Agustus 2013 /
The Casual Vacancy
5 of 5 Star!!
Finally finished this book!
Woohooo, WHAT AN AMAZING JOURNEY!

This book is a masterpiece! JK Rowling, you nailed it again, BRAVO!. #bowlow

Pokoknya cakep, alur kisah ngga ketebak sampe akhir. Mencegangkan. Bukan Hollywood, jadi akhirnya ngga perfect, but that's as real as real life supposed to be. Still perfect as it is by the way, dan tetap closure yang baik.

Ahhh.. saya masih kesambet dopamin karena buku ini... biar saya nikmati dulu ya sodara sodara....




Oke, dopamin sudah terserap penuh, dan inilah reviewnya. :D

Buku ini mirip buku siapa yaa... hmm, entah saya belum pernah baca buku semodel ini. Instead of dua karakter utama (atau lazimnya buku maksimal 5 karakter utama), ini ada sekitar 17 (TUJUH BELAS!) karakter, yang mana masing-masing punya bagian kisah, sudut pandang dan, tentu saja, karakter tersendiri yang mewarnai panggung sandiwara bernama Politik Kota Pagfort.

Panggungnya berlatar perseteruan dua kubu politik di kota Pagfort, dimana yang satu setuju sebuah daerah kumuh bernama Fields dikembalikan ke Yarvil (kota sebelah), dan kubu lainnya menolak. Kisah dibuka dengan kematian mendadak seorang Barry Fairbrother, sang leader oposan yang dicintai oleh kaum 'terasing', yang menciptakan riak gelombang perebutan kursi kosong untuk tujuan pribadi masing-masing, dan pembukaan aib-aib pribadi ke ranah publik.

Dalam kisah ini, kita diajak untuk menyelami kehidupan para tokohnya, betul-betul meresapi kegundahan, kemarahan, ambisi, dan kecemasan masing-masing. All 17 of them. Dan itu adalah perjalanan MELELAHKAN, Saudara, Saudara! 

Andai saja JK Rowling bukanlah JK Rowling, kita bakal disuguhi 500 halaman desertasi psikologi moderen, instead of a novel.(Gluph)

Untung JK Rowling yang menulis kisah ini... Walhasil, ini menjadi kisah yang captivating. Believe me, meski kamu sudah baca satu chapter (yang segepok itu tebalnya), kamu akan sangat kesulitan untuk menutup buku ini. Alur kisahnya betul-betul sulit ditebak, dan endingnya MENGGELEGAR...

With that said, I think JK Rowling is Today's Genius Woman Writer. Dan kamu rugiiii kalau ngga masukin ini ke daftar baca.

Tips saya ketika kamu memutuskan untuk baca buku ini, SABAR. Di awal kamu akan sedikit kebingungan dengan berbagai perkenalan tokoh, but please, keep on reading, its worth the while.




@dinarkarani

Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

/ 23 Juli 2013 /

Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin by Tere Liye

My rating: 4 of 5 stars



Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin"Entah apa sebabnya, tiba-tiba aku ingin menikmati sepotong kenangan itu. Menikmati sejenak saat aku berhenti dan mengamati kehidupan orang lain. Kehidupan jalanan yang sudah senyap. Kehidupan kota yang beranjak tidur. Terpekur di atas jembatan penyebrangan itu. Menatap lampu lalu lintas yang terus bergantian menyala: merah, hijau, merah, dan seterusnya. Tidak lelah." (hal 220, par 4)

Indah. Memukau.
Itulah kesan yang saya dapat dari membaca buku ini. Indah dalam kejujuran penuturannya, memukau dalam pilihan sudut pandangnya, dalam alur maju-mundur yang dijahit sempurna.

Luar biasa.
Yang membuat saya terpana bukan jalur ceritanya (karena sebenarnya tidak memunculkan sesuatu yang 'wow'), tapi lebih kepada konteks novel ini. Sang penulis adalah laki-laki, tapi ia telah sempurna membuat saya manggut-manggut mengidentifikasi diri dengan tokoh utama perempuan. Saya bisa relate dengan semua kegundahan dan emosi si tokoh. Saya sampai berteriak kaget saat saya googling dan ternyata dia laki-laki! (Maklum, saya baru di dunia pernovelan Indonesia).

Nah, saya kita Tere Liye itu penulis jenius. Tidak ada kata lain yang bisa menjelaskannya. Jenius. Jadi jika kamu mencari buku untuk mempelajari gaya penulisan yang jenius (maju-mundur dengan apik), kamu bisa ambil buku ini.

Dan satu lagi, saya ganjar buku ini dengan rating 4. Bukan 5, karena beberapa dialog terkesan redundan, dan jika kamu skip kamu ngga akan kehilangan banyak.

Oke, jadi apa sih sebetulnya kisah yang ditawarkan Novel ini? Mari kita tengok!

Kisah ini tentang Tania, seorang gadis pintar yang yatim. Bersama adiknya, Dede, yang jauh lebih muda, mereka menjadi pengamen di Ibu Kota. Tania seharusnya kelas 4, tapi karena kematian ayahnya yang tiba-tiba, dan kesehatan ibu mereka yang menurun, dia terpaksa meninggalkan bangku sekolah selama 3 tahun, untuk membantu ibunya berobat.

Mereka bertiga hidup dalam kekumuhan dan kemiskinan. Sampai suatu waktu, seorang Malaikat dalam bentuk laki-laki bernama Damar, hadir dalam hidup mereka. Damar mengasihi Tania dan Dede, dan dengan lembut namun tegas, terus berupaya meningkatkan harkat hidup keluarga mereka. Damar menganggap Ibu (yang hanya disebutkan sebagai inisial "WH") sebagai ibunya sendiri, dan dua anak ingusan itu sebagai adiknya.

Kisah terjalin seperti lazimnya drama. Ibu WH jatuh sakit dan akhirnya meninggal, setelah sebelumnya sempat mencicipi bahagia dan membuat usaha. Tania dalam kepedihan terpaksa pergi ke Singapura untuk meneruskan SMP. Dalam impuls-impuls otak remajanya, rupanya Tania jatuh cinta pada Damar, mengidolakannya, memujanya, dan tak pernah berhenti bahkan hingga Damar menikah.

Konflik yang parah dimulai ketika Damar dan Ratna (kekasihnya) menikah (dimana Tania menolak hadir), yang membuat Tania menjadi semakin apatis dengan standar etika (standar ganda, remaja problematis) dan standar sosial yang diharapkan dari seorang gadis cantik. Hingga akhirnya anti-klimaks, saat Tania dan Damar akhirnya bertemu muka, dimana Tania dapat mengeluarkan segenap rahasia dalam jiwanya secara langsung dan berdamai dengan dirinya sendiri.

Nah, kisahnya memang datar saja seperti itu. Bukan Hollywood-style yang happy-ever-after. Ini adalah kisah hidup yang memang pahit tapi perlu.

Setiap kisah harus memiliki akhir. Akhir yang bagaimanapun yang terjadi nantinya, tugas kita adalah berani mempertanyakan. (#jlebh)


@dinarkarani

View all my reviews

Review: Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza

/ 16 Juli 2013 /

Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza: Rangsangan Baru untuk Melejitkan Word SmartAndaikan Buku Itu Sepotong Pizza: Rangsangan Baru untuk Melejitkan Word Smart by Hernowo

My rating: 4 of 5 stars


Seperti yang tertulis pada cover, buku ini adalah bunga rampai pengalaman penulis dalam melejitkan word smart, kecerdasan menulis.Seluruh artikel dalam buku ini adalah artikel-artikel yang sudah dipublikasikan sebelumnya.

Idenya adalah, setiap orang dapat membaca buku ini seperti membaca menu di restoran: Memesan dan membaca sesuai dengan selera masing-masing. Why? Karena Buku itu Sepotong Pizza!

Buku ini disusun dengan urutan Afeksi -> Kognisi. Hernomo meracik buku ini sedemikian mungkin agar pada bab-bab awal kita mendapatkan cita-rasa buku yang sesungguhnya, yaitu bagaimana cara kita mencintai buku. Lalu seperti pada Mengikat Makna, Hernomo kemudian membawa kita kepada bagaimana cara kita mengejawantahkan pengetahuan dalam tulisan.

Membaca buku ini seperti dihadapkan menu prasmanan. Macam-macam. Tapi dengan rasa signature yang kentara. Disini pembaca tidak dimanjakan dengan instruksi tersusun, melainkan ditantang untuk menemukan makna-makna di sepanjang artikel. Dan itu bagus menurut saya.

Cuma ada satu yang mengganggu. Penataan halaman kiri dan halaman kanan yang umumnya kiri adalah untuk makna, dan kanan untuk tulisan, terasa kurang ajeg dan inkonsisten. Malah lebih sering mengganggu. Banyak halaman kiri yang tidak memberikan tambahan nilai pada tulisan di sebelah kanannya atau artikel yang dibaca, melainkan hanya kumpulan quotes, skema dan poin. Saya tidak melihat gambar dan ilustrasi menarik seperti pada Mengikat Makna. Hal ini justru menjenuhkan, dan membuatnya tidak penting.

Bagaimana dengan gaya tutur personal? Saya secara pribadi menyukai gaya tutur personal, tapi untuk artikel dan novel. Untuk buku how-to yang tebal, rasanya kok too much ya..

Well, pada jaman itu (2003) sedang booming artikel dan kisah dengan sudut pandang orang pertama. Novel-novel atau ulasan arkeologis yang menyerupai diari membanjiri pasaran. Mungkin karena itulah mengapa Hernowo mempertahankan gaya tutur personal (sesuai artikelnya) di buku ini.

Di masa kini, beberapa ajaran terasa redundan dan 'basi', tentu saja karena sudah berlalu 10 tahun dari masa buku ini dihidangkan pada awalnya. Bukan salah bukunya lah, tapi salah saya yang menunda-nunda menimati.

Tapi banyak juga ajaran yang abadi, dan tetap relevan sampai sekarang. Apa aja itu? Baca aja bukunya yaa..

@dinarkarani

View all my reviews

Review: Madre

/ 10 Juli 2013 /

Madre (Kumpulan Cerita)Madre by Dee

My rating: 5 of 5 stars


Buku ini adalah buku pertama Dee yang saya baca. Saya belum pernah baca buku Dee sebelumnya, lantaran teman saya waktu SMA bilang buku Dee yang Supernova itu beratnya bukan main. Ditambah saya sedikit sentimen karena Dee ngambil nama pena yang saya pengin. Hehe..

Anyway, karena lingkungan pertemanan saya pecinta buku, aneh rasanya kalau saya ngga pernah mencicipi satupun buku dari perempuan penulis ini. Dan pilihan saya jatuh pada Madre, semata-mata karena desain cover-nya yang keren abisss.

Dan sejak lembar pertama, saya jatuh cinta kepada gaya penulisan Dee. Betul-betul dibuat angkat topi, lalu melompat ke toko buku online langganan untuk belanja buku Dee yang lainnya! Nikmat.

Penuturannya luar biasa santai, tapi berkarakter. Mengalir seperti tercurah begitu saja. Kisah-kisahnya membuai, menawarkan rasa baru. Meski ada satu kisah romantis yang klise dan mudah ditebak, secara keseluruhan banyak makna baru yang bisa saya serap disana.

Saya pengin tahu bagaimana Dee bisa bikin nuansa senyaman itu. Mungkin Dee punya resep karuhun seperti Madre dalam pengolahan kata. Entah. Pokoknya saya menikmati setiap lembarnya.

@dinarkarani

View all my reviews

Cahaya dari Timur: Pasang Surut Ilmu Pengetahuan

/ 1 Agustus 2012 /
Cover depan

Saat jalan-jalan ke Gramedia beberapa waktu lalu, saya dan suami memilih tema sejarah untuk reading session kami berikutnya. Banyak buku-buku menarik, tetapi kami kepincut dengan dua buah buku, Cahaya Dari Timur dan Babad Tanah Jawi. Berhubung ulasan mengenai Babad Tanah Jawi sudah bertebaran di internet, pada post kali ini saya hanya mengulas Cahaya Dari Timur. :)

Buku ini adalah terjemahan dari karya John Freely, seorang renaissance man, seorang fisikawan, guru dan penulis lebih dari 40 buku, dan telah tinggal di Turki selama 50 tahun. Lihat profilnya disini.


Ngaku deh, biasanya kalau kita membahas Ilmu Pengetahuan, kita hanya menyebut masa Yunani (yang nama tokohnya berakhiran -les-les,atau -ix-ix seperti Asterisk dan Obelix, hehe), Masa-Masa Kegelapan (hanya sedikit tokoh, itupun dibungkam), KEMUDIAN Renaissance (Aquinas, Fibonnaci, dan sebagainya). Cuma tiga tahapan ilmu pengetahuan.

Jaraaang sekali kita mengungkit tentang masa-masa dimana para pemikir aktif seperti Al-Farabi, Al-Kindi dan Ibnu Sina menelurkan puluhan karya. Padahal, tanpa pengaruh ilmu pengetahuan Arab-Islam, mustahil terjadi Renaissance di Eropa. Lewat bukunya ini, John Freely berusaha meluruskan pandangan tersebut, dan mengajukan pemahaman baru : Era Yunani - Masa Keemasan Islam - Renaissance untuk menyebutkan sejarah sains.


Pasang-Surut Ilmu Pengetahuan

John Freely membuka bukunya dengan bahasan mengenai pengembangan ilmu pengetahuan di Yunani,  tentang para filsuf yang bekerja sendirian maupun berkelompok untuk menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan keduniawian. Orang-orang Pagan ini berkontribusi besar pada temuan-temuan filsafati dan turunannya (kelompok ilmu pengetahuan lain seperti logika, matematika, fisika, metafisika, dst).

Gemilang Ilmu Pengetahuan mengalami kemunduran di era Romawi Kristen, saat para filsuf pagan dikucilkan dan dibunuh karena bertentangan dengan doktrin Gereja, serta karena kepercayaan paganisme mereka. Titik terendahnya adalah saat perpustakaan terbesar di Alexandria dibakar oleh massa kristen yang marah. Untungnya, beberapa karya Yunani dan beberapa filsuf berhasil menyebrang ke dunia tengah, dan memunculkan gairah filsafati dari otak-otak brilian Arab-Islam.

Melalui penerjemahan, pengkajian, dan perdebatan ilmiah di madrasah-madrasah di Kairo, Al-Andalus, dan Maghrib, para pemikir dan ilmuwan Arab-Islam meneruskan tradisi ilmu pengetahuan. Seperti para pendahulunya dari Yunani, banyak dari para ilmuwan ini adalah seorang polimath alias orang yang mahir di berbagai disiplin ilmu alias jenius alias generalis yang spesifik (hehe, maafkan kontradiksinya)

Perlu dicatat, dalam buku ini John Freely mengelompokan seluruh tokoh-tokoh ilmuwan di wilayah Arab sebagai ilmuwan/pemikir Arab-Islam. Jadi, ilmuwan yang kita bicarakan bukan dari ras Arab saja dan bukan Muslim saja, tetapi juga dari Yahudi, Kristen dan ada juga dari kaum pagan Persia. Mereka semua berkontribusi menelurkan karya-karya jenius dan orisinal di bidang yang amat luas. Beberapa diantara mereka malah menjadi legenda seperti Al-Jazari. 
Autmaton Perahu Musik karya Al-Jazari

Sayangnya, kepopuleran ilmu pengetahuan Arab-Islam mencapai titik balik pada masa Al-Ghazali. Al-Ghazali, sang eks filosof yang menjadi sufi, menghujam argumen-argumen ilmu pengetahuan yang digagas oleh para pendahulunya tepat di jantung, Iman. (Hmm, rasanya pernah baca di paragraf atas...)

Pemikiran Al-Ghazali menjadi popular karena didukung oleh situasi Islam yang saat itu sudah terdesak oleh gerakan requencuesta Raja-Raja Katolik dan pendudukan bangsa Mongol. Dari keputus-asaan tersebut  muncul gerakan untuk melupakan ilmu pengetahuan dan berfokus ke penyucian diri (sufisme/tasawuf) dan agama. 

A.I Sabra, seorang professor sejarah ilmu pengetahuan, menuturkan hasil observasinya atas kemunduran ini, beliau menyatakan bahwa pandangan yang berlaku mulai dari Al Ghazali dan jaman sesudahnya adalah bahwa "orang berpendidikan diciptakan agar bisa semakin dekat kepada penciptanya", yang artinya 'bukan hanya pengetahuan agama yang lebih tinggi peringkatnya dan lebih patut dipelajari dari semua bentuk pengetahuan lainnya, namun juga semua bentuk pengetahuan lain harus dihubungkan dengan agama.'. Sabra melanjutkan:

Doktrin mengenai ilmu pengetahuan terdiri atas dua jenis: Doktrin yang bertentangan dengan agama yang tentu harus ditolak, dan doktrin yang mempelajari kandungan umum objek-objek material, (yang kedua) itu dapat diabaikan saja, karena tidak ada ruginya sama sekali.   
Hanya ada satu prinsip yang harus menjadi pegangan di saat seseorang harus memutuskan apakah suatu cabang ilmu layak dipelajari atau tidak, yaitu bahwa 'dunia ini adalah lahan untuk ditaburi bagi generasi berikutnya', lalu Ghazali mengutip salah satu hadist Nabi, "Semoga Tuhan melindungi kita dari ilmu yang tidak berguna".  
Hasil akhirnya adalah sebuah pandangan instrumentalis dan agamis dari semua ilmu pengetahuan duniawi yang diijinkan. Ini adalah pandangan yang mengikuti masuknya ilmu logika dan matematika serta pengobatan, walau terbatas, ke sekolah-sekolah madrasah, dan masuknya ahli astronomi ke masjid walau dengan persyaratan khusus. (hlm. 396)

Dengan menghilangnya sifat kritis dari masyarakat Arab-Islam, dan karena kekangan pengkajian di madrasah-madrasah dan institusi pendidikan lainnya, runtuhlah tradisi ilmu pengetahuan Arab-Islam. Tradisi ini dilanjutkan oleh pada pemikir Eropa yang memasuki jaman Renaissance.

Kesimpulan

Jadi, kesimpulan apa yang bisa kita tarik dari buku ini?

Yang saya pahami begini, ilmu pengetahuan hidup dan berkembang dari sifat kritis manusia, dan hilangnya sifat kritis ini berarti kematian ilmu pengetahuan.

Sebagaimana yang kita lihat dalam masa hidup kita saat ini, paham Al-Ghazali masih tumbuh subur di kalangan luas, memagari langkah pengembangan ilmu serta memagari perkembangan kebijak-sanaan mereka sendiri. Bagaimana bisa menjadi bijaksana bila tradisi diskusi ilmiah dikungkung oleh keyakinan atas doktrin (yang belum tentu benar)?

Saya tidak mengatakan bahwa ilmu pengetahuan harus bebas dari agama, itu sekuler namanya. Yang saya usulkan adalah adanya revolusi pemikiran dalam tradisi ilmu pengetahuan kita (muslim), yang tadinya antikritik menjadi prokritik. Dalam urusan agama maupun ilmu pengetahuan, budayakan sifat kritis. Bukankah cuma satu yang tidak boleh kita kritisi, yaitu mengenai zat Allah?

Mari kita upayakan budaya pengkajian dan diskusi, yang bukan bertujuan untuk saling menjatuhkan, tetapi untuk menemukan kebenaran. Jika kesepakatan atas satu kebenaran tidak tercapai, setidaknya kita sama-sama tahu bahwa kita berusaha untuk memaknai, dan perbedaan itu adalah pemaknaan kita atas kebenaran.


@dinarkarani

Problem Solving 101: Review

/ 13 Oktober 2011 /
Setiap kita pasti mengalami pilihan-pilihan sulit, atau pilihan-pilihan yang-tak-begitu-sulit; hal-hal yang ingin diselesaikan, atau masalah akut yang tak pernah mampu dicabut sampai ke akar.

Indikasi adanya permasalahan tersebut adalah jika seseorang bertanya-tanya (kadang sambil termangu): "Apa yang harus aku lakukan?" atau "Mana yang sebaiknya aku pilih?"

Nah, seandainya di otakmu sedang berkecamuk pertanyaan yang sama, maka kamu pasti sama gembiranya dengan saya setelah menemukan-membaca-dan mengaplikasikan saran-saran dalam buku luar biasa ini:

*:--☆--:*:--☆:*:--☆--:*:--☆--: jreng jreng! *ceritanya lagu*
Picture
Yap, the one and only Problem Solving 101

5 kata yang muncul saat saya selesai membaca buku ini adalah  "Kenapa baru gw baca sekarang?!". LOL (Di 2009 sudah meng-azzamkan diri untuk beli, tapi karena satu dan lain hal tertunda)

Buku ini diterbitkan di Indonesia tahun 2009 akhir, oleh penerbit PublishingONE. Cover versi indonesia-nya hanya mengganti subtitle-nya menjadi: Buku Simple Untuk Orang-Orang Cerdas. Langkah yang cerdas, karena saya pasti males beli buku berjudul "101 Pemecahan Masalah" ( ̄~ ̄;)

Saya suka banget sama cover-nya yang kaya dengan tekstur dan warna. Belum lagi ilustrasinya yang keren!

Penulisnya, Ken Watanabe, adalah alumni McKinsey -bagi yang belum tahu McKinsey itu apa, klik disini- yang sengaja keluar dari Firma keren itu hanya untuk membuat buku ini. Luar biasa komitmen-nya ya? Nah, karena beliau adalah alumni McKinsey, maka buku ini pun dirancang menggunakan metode yang sama dengan yang digunakan para McKinseyite dalam pengembaraan mereka!

Artinya: Hampir semua perusahaan besar dunia mengaplikasikan teknik-teknik dalam buku ini untuk memecahkan masalah mereka dan merancang misi mereka. Ini luar biasa! Artinya lagi, dengan mengaplikasikan teknik pemecahan masalah ini kita juga sekelas dengan para rockstar perusahaan multinasional. How cool is that?

Oke, berlanjut ke isinya. Karena buku ini ditujukan untuk anak-anak sekolah di Jepang (keren dah), jadi Ken memulainya dengan menjelaskan perbedaan antara Anak-Anak Pemecah Masalah (yang kita tuju) dengan Nona Pengeluh, Tuan Pengkritik, Nona Pemimpi, dan Tuan Reaksi Cepat (keempatnya yang kita hindari).

Anak-anak Pemecah Masalah adalah mereka yang "memikirkan akar penyebab masalah mereka, menyusun rencana yang efektif sebelum bertindak, dan bersedia menyusun ulang rencana mereka ketika muncul berbagai tantangan baru."

Nah, dalam pembukaan buku ini, kita diajak untuk mengambil sikap sebagai Anak-anak Pemecah Masalah, dengan menggali akar permasalahan, membuat rencana yang berlandasan kuat, meng-eksekusi rencana, dan menjadi fleksibel.

Di bab berikutnya, Ken mengajak kita, Anak-anak Pemecah Masalah, untuk mengikuti bagaimana tiga Anak Pemecah Masalah memecahkan masalah mereka: Jamur Mania, John Gurita, dan Kiwi. Perjalanan mereka diwarnai oleh ilustrasi menarik dan kata-kata yang amat sangat mudah dicerna.

Untuk menjelaskan lebih dalam apa itu problem solving dan tools apa yang mereka gunakan untuk memecahkan masalah, dibawah ini mind mapping yang saya buat:

Picture
Jadi, Problem Solving itu didasari oleh 4 hal:
  1. Menganalisa situasi
  2. Mencari akar permasalahan sejati
  3. Merancang solusi yang mungkin
  4. Mengeksekusi rencana solusi

Semua proses pemecahan masalah pada intinya mengikuti empat langkah tersebut, dan harus bergerak secara simultan. Artinya, tanpa salah satu berjalan, masalah tidak akan terpecahkan.

Tools yang digunakan pun sederhana, berupa Pohon Logika, Strength + Weakness diagram, FlowchartMatrix Prioritas, serta Survey dan Wawancara. Masing-masing tools dapat diterapkan pada satu atau lebih langkah Pemecahan Masalah.

Spoiler-nya cukup sampai disini saja yaa. Selebihnya, tolong beli dan baca buku ini. InsyaAllah, dijamin ga akan menyesal. Ini buku yang paling oke untuk pemecahan masalah harian.
Mulai dari menetapkan jodoh, menentukan arah karir, sampai lokasi liburan berikutnya. Hehehe...

Tapi, jika review di atas masih belum cukup, klik disini untuk langsung mengunjungi website Ken Watanabe.
Selamat menjadi Anak-Anak Pemecah Masalah!

\(^-^)/

Follow Me

blogger widget

Temanku

Popular Posts

Blog Hits

 
Copyright © 2010 Dinar Karani, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger