Ketika saya bangun pagi tadi,
saya merasa tidak ajeg, merasa tipis, merasa lelah dan hampir putus-asa. Lagi? Pikir saya. Sebab ini bukan kali
pertama saya merasakan hal yang sama. Jika kamu bisa membaca seluruh kisah saya
dalam novel berseri, maka buku itu pasti sudah ingin kamu lempar sekarang,
karena masalah-nya berkutat di hal yang itu-itu lagi, tidak berkembang.
Bagaimana ya, hidup di dunia
nyata itu tidak ada tombol pause, kita tak bisa hapus paragraph seenaknya, atau
memilih happy ending dalam setiap fase, bahkan kita tidak bisa memilih masalah
apa yang akan dihadapi si tokoh utama minggu depan (kalau menciptakan masalah
bisa). Saya, ternyata, bukan penulis
kisah saya sendiri.
Semuanya bermula sejak beberapa
tahun yang lalu. Dimana saya masih merasa lugu, tidak tahu apa-apa mengenai
hidup, dan hanya ingin berusaha untuk mengenal diri sendiri dan tujuan hidup
saya. (Tulisan-tulisan saya di awal pengembaraan itu bisa dilihat
disini,
disini, dan
disini.)
Dalam setiap akhir perjalanan kontemplasi
saya, saya selalu dapat memungut sebuah makna. Baru atau Lama. Baru, jika itu
adalah makna baru atau makna tambahan yang memperkuat makna sebelumnya. Lama,
jika itu hanya mengingatkan saya atas makna yang pernah saya ambil sebelumnya.
Sebetulnya hidup itu (seharusnya)
penuh dengan kontemplasi. Karena meski jasad kita hidup di tataran fisik, jiwa
kita merindukan jembatan transendental, dialog ilahiah. Jiwa kita lapar dan
haus untuk menapaki tangga itu,
selalu.
Maka ijinkan saya untuk
berkontemplasi lagi pagi ini. Mengingat dengan jernih jalur-jalur yang saya
pilih, hal-hal yang saya abaikan, yang akhirnya menempatkan saya pada titik
terendah, palung terdalam.
Jalur-jalur Yang Saya Tempuh:
- Saya
menikah. Dan untuk keputusan ini, saya mengabaikan kesempatan kuliah.
- Saya
memiliki standar yang tinggi. Dan untuk keputusan ini, saya punya biaya hidup
yang tinggi.
- Saya
memilih suami yang berwirausaha. Dan untuk keputusan ini, saya harus bekerja di
luar rumah.
- Saya
memilih berkarir. Dan untuk keputusan ini, saya harus bekerja all-out dan
meninggalkan keluarga, mencari peluang-peluang untuk terus naik .
- Saya
memiliki anak. Dan untuk keputusan ini, saya menggadaikan kesehatan jiwa dan
raga saya. Membagi pikiran saya antara anak dan urusan kantor, membagi peran
saya antara Ibu dan Karyawan.
Saya merasa tipis, lelah, dan
hampir putus asa. Lelah saya tak berhenti di kantor, lelah saya harus dibawa
sampai besok pagi, lelah saya harus menunggu saat kedua manik-mata anak saya
menatap lekat dengan rindu. Lalu segala lelah saya menumpuk, sedikit-sedikit,
menjadi bola salju.
Tuhan, sungguh saya semakin
lelah.
Ya, saya tahu, pada akhirnya saya harus
memilih.
Dan saya tahu apa yang harus saya
pilih.
Tapi saya takut.
Saya pengecut.
Saya tidak ingin
kehilangan standar hidup yang saya jalani. Saya takut terjebak dalam kemiskinan
(there I said it!). Saya takut menggantungkan diri pada suami saya (there I
said it!). Saya takut masa depan saya tidak seindah harapan (there and there, I
finally said it..)
Sejenak berdiam diri. Mencerna.
Bernafas lega. Demikian lega, karena akhirnya saya bisa jujur pada diri
sendiri.
Lalu tiba-tiba air mata jatuh dan
menderas.
Ya, Tuhan.. Saya ringkih, dan kini saya menyadari itu. Saya tidak dapat mengatur diri saya sendiri, dan kini saya menyadari itu. Saya lemah, dan kini saya menyadari itu..
Tuhan,
hamba titipkan seluruh hidup hamba ditangan-Mu,
pilihkan jalan terbaik,
teguhkan bahu hamba,
tegapkan langkah hamba,
isilah hati hamba dengan ketenangan…
Epilog:
Sesungguhnya Tuhan telah menciptakan kita dengan ratusan bahkan puluh-ribuan takdir, atau mungkin juga tak-hingga. Takdir-takdir itu telah dijamin oleh Yang Maha Mengetahui, dan tidak seharusnya kita merasa sendirian dan putus asa. Pilihan-pilihan yang kita ambil, hanya semata-mata membuka lembar takdir yang mau tak mau akan kita jalani, entah dari buku yang mana.
Ingat saja, bahwa seluruh buku takdir kita ditulis oleh Tangan Yang Maha Indah, dan Ia adalah Penulis yang paling baik.
Ikuti kata hati. Lepaskan rasa takut.
"The Road Not Taken"
Robert Frost
Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;
Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,
And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.
I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I—
I took the one less travelled by,
And that has made all the difference.
@dinarkarani