The Casual Vacancy

/ 20 Agustus 2013 /
The Casual Vacancy
5 of 5 Star!!
Finally finished this book!
Woohooo, WHAT AN AMAZING JOURNEY!

This book is a masterpiece! JK Rowling, you nailed it again, BRAVO!. #bowlow

Pokoknya cakep, alur kisah ngga ketebak sampe akhir. Mencegangkan. Bukan Hollywood, jadi akhirnya ngga perfect, but that's as real as real life supposed to be. Still perfect as it is by the way, dan tetap closure yang baik.

Ahhh.. saya masih kesambet dopamin karena buku ini... biar saya nikmati dulu ya sodara sodara....




Oke, dopamin sudah terserap penuh, dan inilah reviewnya. :D

Buku ini mirip buku siapa yaa... hmm, entah saya belum pernah baca buku semodel ini. Instead of dua karakter utama (atau lazimnya buku maksimal 5 karakter utama), ini ada sekitar 17 (TUJUH BELAS!) karakter, yang mana masing-masing punya bagian kisah, sudut pandang dan, tentu saja, karakter tersendiri yang mewarnai panggung sandiwara bernama Politik Kota Pagfort.

Panggungnya berlatar perseteruan dua kubu politik di kota Pagfort, dimana yang satu setuju sebuah daerah kumuh bernama Fields dikembalikan ke Yarvil (kota sebelah), dan kubu lainnya menolak. Kisah dibuka dengan kematian mendadak seorang Barry Fairbrother, sang leader oposan yang dicintai oleh kaum 'terasing', yang menciptakan riak gelombang perebutan kursi kosong untuk tujuan pribadi masing-masing, dan pembukaan aib-aib pribadi ke ranah publik.

Dalam kisah ini, kita diajak untuk menyelami kehidupan para tokohnya, betul-betul meresapi kegundahan, kemarahan, ambisi, dan kecemasan masing-masing. All 17 of them. Dan itu adalah perjalanan MELELAHKAN, Saudara, Saudara! 

Andai saja JK Rowling bukanlah JK Rowling, kita bakal disuguhi 500 halaman desertasi psikologi moderen, instead of a novel.(Gluph)

Untung JK Rowling yang menulis kisah ini... Walhasil, ini menjadi kisah yang captivating. Believe me, meski kamu sudah baca satu chapter (yang segepok itu tebalnya), kamu akan sangat kesulitan untuk menutup buku ini. Alur kisahnya betul-betul sulit ditebak, dan endingnya MENGGELEGAR...

With that said, I think JK Rowling is Today's Genius Woman Writer. Dan kamu rugiiii kalau ngga masukin ini ke daftar baca.

Tips saya ketika kamu memutuskan untuk baca buku ini, SABAR. Di awal kamu akan sedikit kebingungan dengan berbagai perkenalan tokoh, but please, keep on reading, its worth the while.




@dinarkarani

Hidup itu Sederhana

/ /


Hidup itu sederhana. 

Tujuan kita di dunia ini pun sederhana: Untuk mensyukuri nikmat Tuhan, hidup selurus-lurusnya, menyebarkan kebaikan, menahan diri dari luapan-luapan nafsu, dan mempersiapkan hidup setelah mati. Sederhana. 

Tapi kenapa kita, atau mungkin saya, pada sebagian besar hidup ini justru lebih suka membuatnya terasa sulit? Saya gunakan kata ‘terasa’, karena tingkat kesulitan itu a matter of perspective. Saya juga sedang mempersulit pembaca yang budiman dengan menggunakan bahasa campur-campur seperti ini. Tapi saya suka, dan sepertinya saya tidak bisa tidak untuk tidak mempersulit diri saya sendiri. (… see?)

Kebanyakan dari kita lebih suka merumitkan gaya bahasa, membelit-belitkan proses kerja, mencemplungkan diri ke keadaan yang ‘tampak’ rumit, mengatakan ‘ya’ pada hubungan yang complicated, dimana sesungguhnya kita bisa mengambil pilihan yang lebih sederhana, lebih enteng dan less-stresfull. Kenapa? Nah, kenapa ya? 

Jawabannya sederhana. Karena kita percaya bahwa kerumitan bukanlah pilihan.


Berdamai dengan Keraguan

/ 29 Juli 2013 /


peaceful-morning.jpg
source
Ada satu hal yang berkelindan di pikiran saya pagi ini, panjang, memutar-mutar, dan mengakar. Ia hasil kontemplasi saya atas pilihan hidup yang sudah saya putuskan, dan akan saya ambil. Tapi kali ini bukan  lahir dari kegalauan, lahirnya tidak ditandai badai, melainkan udara lembut dan senyum manis. Hangat. Hampir kudus, malah.

Pagi ini keraguan saya mendadak hilang. Senyap. Tak ada suara-suara ganjil yang menusuk di hati saat saya memikirkan jalan-jalan itu, yang gerbangnya akan saya masuki, sebentar lagi.  Tidak ada. Yang ada hanya keheningan yang menyenangkan. Membebaskan.

Kenapa tiba-tiba keraguan saya memutuskan angkat kaki pagi tadi? Bukannya saya tidak mencoba sebelumnya untuk meredakan keraguan itu. Saya sudah memberikan argumentasi terbaik tempo hari disini. Tapi ternyata saat itu, argumentasi tidaklah cukup.  Kenapa sekarang?


Lalu saya berdialog dengan hati. 

Mungkin, Kesadaran tak memberi kita cukup ruang untuk mengurai keraguan atas pilihan yang akan kita ambil. Mungkin kesadaran hanya memungkinkan kita memikirkan konsekuensi atas sebuah pilihan, bukan meredakan keraguan. Mungkin, selama ini, Kesadaran hanya mampu menenggelamkan keraguan ke sungai hitam di otak kita.

Tapi keraguan yang tenggelam itu tidak mati. It’s very much alive. Dia hanya didorong ke sudut gelap, diberi makanan dengan setengah hati, dan disodok-sodok saat berani menyembul ke permukaan.  (Saat naik ke permukaan, kita lalu merasa terdzolimi, sakit hati, bingung, galau)

Tapi kita tidak bertanya kenapa dia tidak mati. Kita cukup puas dengan memaki-maki. Lalu seperti seluruh hal buruk yang terjadi pada diri kita, anggap saja ‘dosa’ itu tak pernah terjadi, dan segera nurani kita merasa lebih baik.

Hmm…

Tapi mungkin, menghilangkan keraguan itu memang bukan wilayah Kesadaran kita. Mungkin memang Kesadaran tidak punya cukup wewenang untuk menenangkan atau menghilangkan keraguan yang ada. Mungkin tugas Kesadaran memang menyodok Keraguan ke sudut-sudut otak. Mungkin memang keraguan itu seperti dosa yang sering kita lupakan dan kemudian (maunya) benar-benar hilang sering berjalannya waktu.

Mungkin.

Mungkinkah Keyakinan itu adalah bebannya Jiwa, dan bukan Kesadaran?

Mungkin kita seharusnya menunda pertikaian Kesadaran atas pilihan-pilihan yang tersedia. Biarkan saja proses memilih itu menjadi sedemikian rupa galau dan panjangnya, sedemikian resah dan gelisahnya, hingga sampai di satu titik saat Jiwa akhirnya mampu memilih sendiri jalannya, lalu kita pun yakin. Terpuaskan.

Mungkin…

Saya berhenti disitu. Rasanya tidak perlu lagi saya berusaha memaknai apa yang saya alami. Jiwa saya sudah mengambil pilihan.

Dan saat jiwa akhirnya memilih, seluruh resah terasa tak berarti lagi.
Ragu dihapus. Habis. Punah. Alhamdulillah.

@dinarkarani


Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

/ 23 Juli 2013 /

Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin by Tere Liye

My rating: 4 of 5 stars



Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin"Entah apa sebabnya, tiba-tiba aku ingin menikmati sepotong kenangan itu. Menikmati sejenak saat aku berhenti dan mengamati kehidupan orang lain. Kehidupan jalanan yang sudah senyap. Kehidupan kota yang beranjak tidur. Terpekur di atas jembatan penyebrangan itu. Menatap lampu lalu lintas yang terus bergantian menyala: merah, hijau, merah, dan seterusnya. Tidak lelah." (hal 220, par 4)

Indah. Memukau.
Itulah kesan yang saya dapat dari membaca buku ini. Indah dalam kejujuran penuturannya, memukau dalam pilihan sudut pandangnya, dalam alur maju-mundur yang dijahit sempurna.

Luar biasa.
Yang membuat saya terpana bukan jalur ceritanya (karena sebenarnya tidak memunculkan sesuatu yang 'wow'), tapi lebih kepada konteks novel ini. Sang penulis adalah laki-laki, tapi ia telah sempurna membuat saya manggut-manggut mengidentifikasi diri dengan tokoh utama perempuan. Saya bisa relate dengan semua kegundahan dan emosi si tokoh. Saya sampai berteriak kaget saat saya googling dan ternyata dia laki-laki! (Maklum, saya baru di dunia pernovelan Indonesia).

Nah, saya kita Tere Liye itu penulis jenius. Tidak ada kata lain yang bisa menjelaskannya. Jenius. Jadi jika kamu mencari buku untuk mempelajari gaya penulisan yang jenius (maju-mundur dengan apik), kamu bisa ambil buku ini.

Dan satu lagi, saya ganjar buku ini dengan rating 4. Bukan 5, karena beberapa dialog terkesan redundan, dan jika kamu skip kamu ngga akan kehilangan banyak.

Oke, jadi apa sih sebetulnya kisah yang ditawarkan Novel ini? Mari kita tengok!

Kisah ini tentang Tania, seorang gadis pintar yang yatim. Bersama adiknya, Dede, yang jauh lebih muda, mereka menjadi pengamen di Ibu Kota. Tania seharusnya kelas 4, tapi karena kematian ayahnya yang tiba-tiba, dan kesehatan ibu mereka yang menurun, dia terpaksa meninggalkan bangku sekolah selama 3 tahun, untuk membantu ibunya berobat.

Mereka bertiga hidup dalam kekumuhan dan kemiskinan. Sampai suatu waktu, seorang Malaikat dalam bentuk laki-laki bernama Damar, hadir dalam hidup mereka. Damar mengasihi Tania dan Dede, dan dengan lembut namun tegas, terus berupaya meningkatkan harkat hidup keluarga mereka. Damar menganggap Ibu (yang hanya disebutkan sebagai inisial "WH") sebagai ibunya sendiri, dan dua anak ingusan itu sebagai adiknya.

Kisah terjalin seperti lazimnya drama. Ibu WH jatuh sakit dan akhirnya meninggal, setelah sebelumnya sempat mencicipi bahagia dan membuat usaha. Tania dalam kepedihan terpaksa pergi ke Singapura untuk meneruskan SMP. Dalam impuls-impuls otak remajanya, rupanya Tania jatuh cinta pada Damar, mengidolakannya, memujanya, dan tak pernah berhenti bahkan hingga Damar menikah.

Konflik yang parah dimulai ketika Damar dan Ratna (kekasihnya) menikah (dimana Tania menolak hadir), yang membuat Tania menjadi semakin apatis dengan standar etika (standar ganda, remaja problematis) dan standar sosial yang diharapkan dari seorang gadis cantik. Hingga akhirnya anti-klimaks, saat Tania dan Damar akhirnya bertemu muka, dimana Tania dapat mengeluarkan segenap rahasia dalam jiwanya secara langsung dan berdamai dengan dirinya sendiri.

Nah, kisahnya memang datar saja seperti itu. Bukan Hollywood-style yang happy-ever-after. Ini adalah kisah hidup yang memang pahit tapi perlu.

Setiap kisah harus memiliki akhir. Akhir yang bagaimanapun yang terjadi nantinya, tugas kita adalah berani mempertanyakan. (#jlebh)


@dinarkarani

View all my reviews

Pilihan: Sebuah Pengungkapan Diri

/ 18 Juli 2013 /


Ketika saya bangun pagi tadi, saya merasa tidak ajeg, merasa tipis, merasa lelah dan hampir putus-asa. Lagi? Pikir saya. Sebab ini bukan kali pertama saya merasakan hal yang sama. Jika kamu bisa membaca seluruh kisah saya dalam novel berseri, maka buku itu pasti sudah ingin kamu lempar sekarang, karena masalah-nya berkutat di hal yang itu-itu lagi, tidak berkembang.

Bagaimana ya, hidup di dunia nyata itu tidak ada tombol pause, kita tak bisa hapus paragraph seenaknya, atau memilih happy ending dalam setiap fase, bahkan kita tidak bisa memilih masalah apa yang akan dihadapi si tokoh utama minggu depan (kalau menciptakan masalah bisa).  Saya, ternyata, bukan penulis kisah saya sendiri.


Semuanya bermula sejak beberapa tahun yang lalu. Dimana saya masih merasa lugu, tidak tahu apa-apa mengenai hidup, dan hanya ingin berusaha untuk mengenal diri sendiri dan tujuan hidup saya. (Tulisan-tulisan saya di awal pengembaraan itu bisa dilihat disini, disini, dan disini.)

Dalam setiap akhir perjalanan kontemplasi saya, saya selalu dapat memungut sebuah makna. Baru atau Lama. Baru, jika itu adalah makna baru atau makna tambahan yang memperkuat makna sebelumnya. Lama, jika itu hanya mengingatkan saya atas makna yang pernah saya ambil sebelumnya.

Sebetulnya hidup itu (seharusnya) penuh dengan kontemplasi. Karena meski jasad kita hidup di tataran fisik, jiwa kita merindukan jembatan transendental, dialog ilahiah. Jiwa kita lapar dan haus untuk menapaki tangga itu, selalu.

Maka ijinkan saya untuk berkontemplasi lagi pagi ini. Mengingat dengan jernih jalur-jalur yang saya pilih, hal-hal yang saya abaikan, yang akhirnya menempatkan saya pada titik terendah, palung terdalam.


Jalur-jalur Yang Saya Tempuh:


  1. Saya menikah. Dan untuk keputusan ini, saya mengabaikan kesempatan kuliah.
  2. Saya memiliki standar yang tinggi. Dan untuk keputusan ini, saya punya biaya hidup yang tinggi.
  3. Saya memilih suami yang berwirausaha. Dan untuk keputusan ini, saya harus bekerja di luar rumah.
  4. Saya memilih berkarir. Dan untuk keputusan ini, saya harus bekerja all-out dan meninggalkan keluarga, mencari peluang-peluang untuk terus naik .
  5. Saya memiliki anak. Dan untuk keputusan ini, saya menggadaikan kesehatan jiwa dan raga saya. Membagi pikiran saya antara anak dan urusan kantor, membagi peran saya antara Ibu dan Karyawan.


Saya merasa tipis, lelah, dan hampir putus asa. Lelah saya tak berhenti di kantor, lelah saya harus dibawa sampai besok pagi, lelah saya harus menunggu saat kedua manik-mata anak saya menatap lekat dengan rindu. Lalu segala lelah saya menumpuk, sedikit-sedikit, menjadi bola salju.

Tuhan, sungguh saya semakin lelah. 

 Ya, saya tahu, pada akhirnya saya harus memilih.
Dan saya tahu apa yang harus saya pilih.

Tapi saya takut.
Saya pengecut. 
Saya tidak ingin kehilangan standar hidup yang saya jalani. Saya takut terjebak dalam kemiskinan (there I said it!). Saya takut menggantungkan diri pada suami saya (there I said it!). Saya takut masa depan saya tidak seindah harapan (there and there, I finally said it..)

Sejenak berdiam diri. Mencerna. Bernafas lega. Demikian lega, karena akhirnya saya bisa jujur pada diri sendiri.

Lalu tiba-tiba air mata jatuh dan menderas.




Ya, Tuhan.. Saya ringkih, dan kini saya menyadari itu. Saya tidak dapat mengatur diri saya sendiri, dan kini saya menyadari itu. Saya lemah, dan kini saya menyadari itu..

Tuhan,
hamba titipkan seluruh hidup hamba ditangan-Mu,
pilihkan jalan terbaik,
teguhkan bahu hamba,
tegapkan langkah hamba,
isilah hati hamba dengan ketenangan…


Epilog:


Sesungguhnya Tuhan telah menciptakan kita dengan ratusan bahkan puluh-ribuan takdir, atau mungkin juga tak-hingga. Takdir-takdir itu telah dijamin oleh Yang Maha Mengetahui, dan tidak seharusnya kita merasa sendirian dan putus asa. Pilihan-pilihan yang kita ambil, hanya semata-mata membuka lembar takdir yang mau tak mau akan kita jalani, entah dari buku yang mana.

Ingat saja, bahwa seluruh buku takdir kita ditulis oleh Tangan Yang Maha Indah, dan Ia adalah Penulis yang paling baik.

Ikuti kata hati. Lepaskan rasa takut.


"The Road Not Taken"

Robert Frost

Two Roads Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;

Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,

And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.

I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I—
I took the one less travelled by,
And that has made all the difference.




@dinarkarani

Review: Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza

/ 16 Juli 2013 /

Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza: Rangsangan Baru untuk Melejitkan Word SmartAndaikan Buku Itu Sepotong Pizza: Rangsangan Baru untuk Melejitkan Word Smart by Hernowo

My rating: 4 of 5 stars


Seperti yang tertulis pada cover, buku ini adalah bunga rampai pengalaman penulis dalam melejitkan word smart, kecerdasan menulis.Seluruh artikel dalam buku ini adalah artikel-artikel yang sudah dipublikasikan sebelumnya.

Idenya adalah, setiap orang dapat membaca buku ini seperti membaca menu di restoran: Memesan dan membaca sesuai dengan selera masing-masing. Why? Karena Buku itu Sepotong Pizza!

Buku ini disusun dengan urutan Afeksi -> Kognisi. Hernomo meracik buku ini sedemikian mungkin agar pada bab-bab awal kita mendapatkan cita-rasa buku yang sesungguhnya, yaitu bagaimana cara kita mencintai buku. Lalu seperti pada Mengikat Makna, Hernomo kemudian membawa kita kepada bagaimana cara kita mengejawantahkan pengetahuan dalam tulisan.

Membaca buku ini seperti dihadapkan menu prasmanan. Macam-macam. Tapi dengan rasa signature yang kentara. Disini pembaca tidak dimanjakan dengan instruksi tersusun, melainkan ditantang untuk menemukan makna-makna di sepanjang artikel. Dan itu bagus menurut saya.

Cuma ada satu yang mengganggu. Penataan halaman kiri dan halaman kanan yang umumnya kiri adalah untuk makna, dan kanan untuk tulisan, terasa kurang ajeg dan inkonsisten. Malah lebih sering mengganggu. Banyak halaman kiri yang tidak memberikan tambahan nilai pada tulisan di sebelah kanannya atau artikel yang dibaca, melainkan hanya kumpulan quotes, skema dan poin. Saya tidak melihat gambar dan ilustrasi menarik seperti pada Mengikat Makna. Hal ini justru menjenuhkan, dan membuatnya tidak penting.

Bagaimana dengan gaya tutur personal? Saya secara pribadi menyukai gaya tutur personal, tapi untuk artikel dan novel. Untuk buku how-to yang tebal, rasanya kok too much ya..

Well, pada jaman itu (2003) sedang booming artikel dan kisah dengan sudut pandang orang pertama. Novel-novel atau ulasan arkeologis yang menyerupai diari membanjiri pasaran. Mungkin karena itulah mengapa Hernowo mempertahankan gaya tutur personal (sesuai artikelnya) di buku ini.

Di masa kini, beberapa ajaran terasa redundan dan 'basi', tentu saja karena sudah berlalu 10 tahun dari masa buku ini dihidangkan pada awalnya. Bukan salah bukunya lah, tapi salah saya yang menunda-nunda menimati.

Tapi banyak juga ajaran yang abadi, dan tetap relevan sampai sekarang. Apa aja itu? Baca aja bukunya yaa..

@dinarkarani

View all my reviews

Review: Madre

/ 10 Juli 2013 /

Madre (Kumpulan Cerita)Madre by Dee

My rating: 5 of 5 stars


Buku ini adalah buku pertama Dee yang saya baca. Saya belum pernah baca buku Dee sebelumnya, lantaran teman saya waktu SMA bilang buku Dee yang Supernova itu beratnya bukan main. Ditambah saya sedikit sentimen karena Dee ngambil nama pena yang saya pengin. Hehe..

Anyway, karena lingkungan pertemanan saya pecinta buku, aneh rasanya kalau saya ngga pernah mencicipi satupun buku dari perempuan penulis ini. Dan pilihan saya jatuh pada Madre, semata-mata karena desain cover-nya yang keren abisss.

Dan sejak lembar pertama, saya jatuh cinta kepada gaya penulisan Dee. Betul-betul dibuat angkat topi, lalu melompat ke toko buku online langganan untuk belanja buku Dee yang lainnya! Nikmat.

Penuturannya luar biasa santai, tapi berkarakter. Mengalir seperti tercurah begitu saja. Kisah-kisahnya membuai, menawarkan rasa baru. Meski ada satu kisah romantis yang klise dan mudah ditebak, secara keseluruhan banyak makna baru yang bisa saya serap disana.

Saya pengin tahu bagaimana Dee bisa bikin nuansa senyaman itu. Mungkin Dee punya resep karuhun seperti Madre dalam pengolahan kata. Entah. Pokoknya saya menikmati setiap lembarnya.

@dinarkarani

View all my reviews

Penemuan Kembali (Passion yang Hilang)!

/ 4 Juli 2013 /
Good morning, met pagee!
Pagi ini dengan kepala berdenyut kencang dan dua kelopak mata berdekapan erat enggan dilepas, saya memaksa diri untuk mulai menulis. Agar tak hilang kesempatan, pikir saya.

Soalnya saya sedang berada di atas bus pariwisata, dan kategori transportasi ini tak ada hubungannya dengan alasan perjalanan. Bukannya pariwisata (meski jadi salah satu agenda), saya dan rekan-rekan safar ke Tanjung Lesung justru untuk untuk evaluasi kinerja semester pertama. Hehe..

Mungkin agar tamparan ga dirasa terlalu keras, disediakan dulu tempat jatuh yang nyaman. :-D

Saya sih senang, karena selain saya kepingin show-off ke rekan-rekan lain bahwa tim kami sudah menerapkan KPI (meski itu versi beta), saya juga jadi  berkesempatan untuk melakukan sesuatu yang ternyata sangat saya sukai, a.k.a MENEMUKAN PASSION LAIN! Woooo! How cool is thaat??

Nah nah, jadi ceritanya kita diwajibkan untuk membuat presentasi. Setiap departemen. Saya sudah bikin presentasi standar profesional lah, yang cheerful, icon-icon bisnis, standar microsoft powerpoint dah. Precise to the point, clean cut.

Begitu menerima rundown acara, rupanya saya ditempatkan jadi presenter penutup di hari kedua, yang acaranya dimulai pukul 21.00, sedangkan presentasi paling awal sudah dimulai sejak pukul 8.00. Berturut-turut. Kepala saya langsung sakit.

OMG!
I need to gather everyone's attention!
Gimana caranya biar mereka ngga ngantuk liat presentasi gue??!

Lalu saya merenung di depan komputer cukup lama sebelum memutuskan untuk mengubah keseluruhan desain. I decide that I will give a laid back contemporary presentation. Wha? Yup, you heard that right. A Laid-back, Contemporary presentation design.

Total make-over ini menghasilkan presentasi yang whimsical, and I Loove It! Nih saya kasih bocorannya. Ngga keren-keren amat, tapi BEDA (setidaknya diantara presentasi Head departemen non-creative lainnya, hehe)
front page
Front Page Presentasi Evaluasi kite, Penemuan Kembali!

Section 1 subtitle
Section 1 Subtitel, Penemuan Kembali Passion yang Hilang!

Section 2 subtitle
Section 2 Subtitle, Penemuan Kembali Passion yang Hilang!

Isi Section 3 (sample)
Isi Section 3 (sample), Penemuan Kembali Passion yang Hilang!

Isi Section 3 (sample)
Isi Section 3 (sample), Penemuan Kembali Passion yang Hilang

Isi Section 3, kesimpulan
Isi Section 3, kesimpulan

End Page, Thanks statement <3
End Page, Thanks statement <3


Dibutuhkan waktu 3 hari untuk bikin presentasi ini dan ga sedikit usaha bikin grafis yang akhirnya gagal (total 26 cute slides). Phew... Tapi saya menikmati setiap detiknya. Sangat menikmati... (Kalau ada yang kepingin tau font apa yang saya pake, atau soal detail grafisnya, email aja ya, nanti saya kasih link-nya)

Lalu saya jadi ingat yang dulu-dulu. Sebenernya sejak dulu saya suka menggambar, menciptakan chaos di rumah dengan menata sendiri ruangan saya dan ruang apapun yang mungkin. Saya juga suka membuat komik manual dan digital, saya suka bikin grafis di photoshop, dan semasa kuliah saya pernah bikin presentasi out of the box dimana saya bikin sendiri grafisnya pake komik manual yang di scan. Semua hal itu saya lakukan dengan gembira, seperti tidak kenal cape dan waktu.

Tapi ko saya ga pernah mempertimbangkan desain sebagai passion sebelumnya yah?
Hmm...

Whateverlah, from this day onward, Desain, mari kita bersenang-senang! Woohoo!

@dinarkarani


Update: Sekarang saya ada di Bloglovin', follow yaa..

Latihan Menulis dengan Metode "Tulis Apa Saja, Saat Kepingin"

/ 28 Juni 2013 /
Hai hai hai haii!
Sudah lama banget skip nulis di blog ini. Gagal deh rencana saya untuk post setiap hari. Ternyata saya ngga punya keberanian sebesar itu (atau lebih tepatnya belum punya) untuk memposting apapun yang ada di kepala tanpa tedeng aling-aling...

Berdasarkan evaluasi terhadap tulisan-tulisan maksa yang saya buat tiga hari berturut-turut, serta masukan dari buku tulisan Om Hernowo selama saya bertapa dari dunia blog, saya jadi paham bahwa rupa-rupanya saya masih belum mampu menulis dengan mengalir, dan masih kebingungan dengan gaya penulisan saya ini.

Naah.. untuk itu, saya membuat proyek untuk diri saya sendiri, dimulai dua minggu yang lalu: Menulis Apa Saja, Saat Saya Menginginkannya. Tidak ada embel-embel 'Setiap Hari', karena ternyata itu yang membuat saya malah jera menulis. Saya biarkan saja kata-kata itu muncul dengan keinginannya sendiri, tanpa harus saya paksa-paksa. Seperti telur barangkali, kalau saya paksa keluar malah jadi telor ceplok dan bukannya anak ayam.

Setelah beberapa waktu, rasanya saya tahu karakter penulisan saya seperti apa. Silahkan teman-teman baca dan kritisi tulisan dibawah ini:

Note: Tulisan ini dilahirkan begitu saja. Hanya butuh 15 menit untuk menuliskannya, sesuai proyek saya diatas. Jadi, maafkan kementahannya, I hope you can give me feedback. :)





Untuk Musuh Terkasih,


 
Oke, jadi saya ngga suka sama kamu. Kamu juga ga suka sama saya. Fine, the feeling are mutual. Kita ga perlu saling sapa, dan memang ga perlu menjadi karib untuk bisa mengerjakan proyek bareng-bareng. Kita saling memahami saja, bahwa kita itu utara dan selatan, malam dan siang, hitam dan putih.
Dari sekian banyak hal di dunia ini, kita akui saja, batas-batas kesamaan kita itu tipis. Setipis jarum kompas, setipis subuh, setipis abu.

Kita tahu kita berbeda. Kita paham kita tak saling sepakat. Kita sepakat kita tak pernah bisa akur. Dan itu cukup. Cukup bagi kita bahwa kita terdampar di kapal yang sama, dengan tujuan yang sama, dan waktu jumpa yang lebih lama daripada waktu kita bercengkrama dengan keluarga.
Tapi entah kenapa, dengan segala keriuhan cekcok kita, dengan segala keengganan, segala kekesalan, segala kebencian (Jika saya boleh menyebutnya begitu), saya dan kamu, kita sama-sama tahu bahwa kita sama-sama tak terganti. Setidaknya itu menurut saya. (Kamu pun boleh tidak setuju)

Saya kira begitu. Segala jenis kerumitan hubungan transaksional yang kita anggap sebagai profesional,  rupa-rupanya malah berhasil membuat saya berkaca jauh ke dalam diri saya sendiri. Justru lebih berhasil ketimbang hubungan saya dengan orang yang saya kasihi. 

Hubungan kita yang jauh dari kata hangat itu justru berhasil membuat saya lebih memahami diri saya sendiri, dan apa posisi saya di dunia ini. Lewat kemarahan saya kepadamu, justru saya merenungi bagian diri yang mungkin akan berbuat sesuatu yang sama denganmu. Dengan segala ketidaksetujuan saya terhadap tingkah-lakumu, justru saya paham langkah apa yang harus saya perbaiki untuk diri sendiri.  Kamu, dengan caramu sendiri, telah membuat saya lebih dewasa.

Jadi diatas segala kebencian saya padamu, saya justru harus berterima-kasih. Terima kasih karena kamu telah membuka mata saya pada cermin buram itu. Membuat saya menyadari siapa bayangan yang tersenyum dibalik itu, siapa gajah yang bersembunyi di kelopak mata ini. Terima kasih karena telah membuat saya memahami bahwa kebencian saya padamu sesungguhnya muncul dari kelemahan diri ini.

Saya menyadarinya. Dan saya harap, kamu pun begitu. 

Mari kita sama-sama saling tidak menyukai, tapi juga saling mensyukuri.



How? Sudah cukup mengalir ga? 
Untuk yang kenal saya secara langsung, pasti tahu tulisan ini non-fiksi. Hehehe... Tapi memang begitu kan, dalam beberapa segi kehidupan, Musuh adalah teman yang terbaik.

See you when I see you!

@dinarkarani

Follow Me

blogger widget

Temanku

Popular Posts

Blog Hits

 
Copyright © 2010 Dinar Karani, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger