Review: Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza

/ 16 Juli 2013 /

Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza: Rangsangan Baru untuk Melejitkan Word SmartAndaikan Buku Itu Sepotong Pizza: Rangsangan Baru untuk Melejitkan Word Smart by Hernowo

My rating: 4 of 5 stars


Seperti yang tertulis pada cover, buku ini adalah bunga rampai pengalaman penulis dalam melejitkan word smart, kecerdasan menulis.Seluruh artikel dalam buku ini adalah artikel-artikel yang sudah dipublikasikan sebelumnya.

Idenya adalah, setiap orang dapat membaca buku ini seperti membaca menu di restoran: Memesan dan membaca sesuai dengan selera masing-masing. Why? Karena Buku itu Sepotong Pizza!

Buku ini disusun dengan urutan Afeksi -> Kognisi. Hernomo meracik buku ini sedemikian mungkin agar pada bab-bab awal kita mendapatkan cita-rasa buku yang sesungguhnya, yaitu bagaimana cara kita mencintai buku. Lalu seperti pada Mengikat Makna, Hernomo kemudian membawa kita kepada bagaimana cara kita mengejawantahkan pengetahuan dalam tulisan.

Membaca buku ini seperti dihadapkan menu prasmanan. Macam-macam. Tapi dengan rasa signature yang kentara. Disini pembaca tidak dimanjakan dengan instruksi tersusun, melainkan ditantang untuk menemukan makna-makna di sepanjang artikel. Dan itu bagus menurut saya.

Cuma ada satu yang mengganggu. Penataan halaman kiri dan halaman kanan yang umumnya kiri adalah untuk makna, dan kanan untuk tulisan, terasa kurang ajeg dan inkonsisten. Malah lebih sering mengganggu. Banyak halaman kiri yang tidak memberikan tambahan nilai pada tulisan di sebelah kanannya atau artikel yang dibaca, melainkan hanya kumpulan quotes, skema dan poin. Saya tidak melihat gambar dan ilustrasi menarik seperti pada Mengikat Makna. Hal ini justru menjenuhkan, dan membuatnya tidak penting.

Bagaimana dengan gaya tutur personal? Saya secara pribadi menyukai gaya tutur personal, tapi untuk artikel dan novel. Untuk buku how-to yang tebal, rasanya kok too much ya..

Well, pada jaman itu (2003) sedang booming artikel dan kisah dengan sudut pandang orang pertama. Novel-novel atau ulasan arkeologis yang menyerupai diari membanjiri pasaran. Mungkin karena itulah mengapa Hernowo mempertahankan gaya tutur personal (sesuai artikelnya) di buku ini.

Di masa kini, beberapa ajaran terasa redundan dan 'basi', tentu saja karena sudah berlalu 10 tahun dari masa buku ini dihidangkan pada awalnya. Bukan salah bukunya lah, tapi salah saya yang menunda-nunda menimati.

Tapi banyak juga ajaran yang abadi, dan tetap relevan sampai sekarang. Apa aja itu? Baca aja bukunya yaa..

@dinarkarani

View all my reviews

1 comments:

{ rizky perdana } on: 17 November 2013 19.57 mengatakan...

Maaf, sepertinya ada salah pengetikkan disini, saat saya baca tulisan anda, ko, namanya menjadi Hernomo ?. Bukankah seharusnya Hernowo ?

Saya hanya menyampaikan saja, takut nanti ada yang menyalahkan tulisan anda
Terimakasih

Posting Komentar

Follow Me

blogger widget

Temanku

Popular Posts

Blog Hits

 
Copyright © 2010 Dinar Karani, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger